15 Penyebab Kerusakan Ban


  12-01-2016

Daihatsu Klaten - Lokasinya yang di bawah mobil membuat ban sering tak mendapa perhatian dengan benar. Padahal fungsinya sangat vital, inilah satu-satunya komponen yang menghubung kan mobil dengan permukaan jalan.

Bukannya memperlakukan ban dengan halus, pengemudi seringkali kasar, main tabrak atau membebani ban dengan bobot berlebih. Yang paling celaka, sudah mendapat beban berat, ban justru kurang tekanan. 

“Idealnya, tekanan ban pas sesuai rekomendasi pabrik. Jangan berlebih atau berkurang. Tekanan berlebih membuat cengkeraman berkurang dan berkendara jadi tidak nyaman. Jika kurang tekanan, cepat merusak ban,” jelas Zulpata Zainal, Tire Evaluation & DE-M, FSE Dept.  PT Bridgestone Tire Indonesia. 

Menurut pria ramah ini, selama ban diberi tekanan angin yang sesuai, bahkan diisi lebih pun, tidak ada rumusnya ban akan meletus. Meletusnya ban biasanya karena gundul dan overload.  Selama ban diperlakukan dengan wajar, ban akan berfungsi sebagaimana tugasnya. 

Nah, beberapa tips di bawah ini, bisa dijadikan panduan agar si karet hitam-bundar Anda lebih berumur panjang dan nyaman untuk perjalanan. 

1. Tekanan angin 

Ukurlah tekanan ban sesuai spesifikasi kendaraan dan rekomendasi produsen. Biasanya, tercatat di bagian bawah pintu kiri depan atau buku manual. Jangan terlalu berlebih atau kurang dari patokan itu. 

Andai terlalu keras, di samping daya cengkeram berkurang, juga mengurangi kenyamanan berkendara. Sebaliknya, jika tekanan terlalu rendah, kerja dinding ban menjadi lebih berat dan mengakibatkan defleksi berlebih. Tekanan ban yang kurang juga memperbesar risiko ban meletus. 

Benang di dinding ban lama kelamaan bisa putus. Akibatnya ban benjol dan kekuatannya turun drastis. Makin rendah tekanan ban dari seharusnya, semakin cepat pula ban jadi rusak. 

Solusi: Setidaknya, seminggu sekali periksalah tekanan angin ban. Tambahlah jika kurang dari patokan. 

2. Batu, pecahan kaca atau benda keras 

Batu, pecahan kaca atau benda keras kerap terselip di sela kembangan ban. Itu bisa menjadi petaka. Prosesnya, ketika mobil berjalan, ban seperti dipalu berulang-ulang. Tinggal menghitung berapa kilometer mobil bergerak. Jika lingkar ban 1 meter, mobil bergerak 1 kilometer berarti ban seperti dipalu 1.000 kali. 

Solusi: Segera lepaskan batu, pecahan kaca atau benda keras yang terselip di kembang ban. 

3. Paku 

Paku yang menancap di ban khususnya tubeless (tanpa ban dalam) biasanya menyebabkan tekanan angin berkurang perlahan. Jika paku tidak segera dibuang, di samping akan merusak ban juga bisa menimbulkan karat pada pelat baja. 

Solusi: Segera cabut paku dan ditambal. 

4. Toe In/Out 

Arah roda tidak searah secara horizontal baik ke dalam (in) atau keluar (out). Hal ini bisa berakibat tapak ban bagian dalam atau luar akan tergerus lebih cepat. Jika dibiarkan lama, tapak ban akan botak di bagian dalan (toe in) atau gundul di tapak ban bagian luar (toe out). 

Selain itu lakukan proses balancing  agar roda berputar tanpa getaran. 

Solusi: Lakukan spooring dan balancing 

5. Sudut camber negatif/ positif 

Kerusakan tie-rod,  as roda atau bearing  bisa berujung tidak searahnya roda secara vertikal (camber). Bisa camber  negatif atau positif. Akibatnya seperti toe-in/out,  tapak ban bisa cepat rusak pada sisi dalam (negatif) atau sisi luar (positif). 

Solusi: Lakukan spooring dan balancing 

6. Parkir lama 

Pembebanan ban kendaraan yang berlangsung terus menerus pada satu sisi ban membuat ban menjadi berubah bentuk. Memarkir mobil beberapa hari paling bisa menyebabkan muncul suara gluduk-gluduk  dan kenyamanan berkurang ketika kendaraan dijalankan. Jika periode parkir tidak terlalu lama, kondisi itu bisa hilang dengan sendirinya. Namun jika terlalu lama parkir, ban sulit kembali normal. 

Solusi: Gunakan stand jack  di keempat roda jika mobil akan diparkir lama. 

7. Pengereman dan akselerasi kasar 

Pengereman terutama pada mobil yang belum dilengkapi rem ABS dan cara berakselerasi yang kasar gampang membuat ban lebih cepat gundul. Repotnya penggudulan ban ini tidak merata, tapi hanya di bagian tertentu saja. Di samping ban cepat rusak, juga mengurangi kenyamanan. 

Solusi: Hindari menginjak rem terlalu dalam jika tidak darurat dan berakselerasi secara lembut. 

8. Melindas lubang 

Hati-hati dengan lubang di jalan. Lubang menjadi salah satu penyebab ban gampang rusak. Celakanya, lubang ada di mana-mana, apalagi selepas musim hujan. Jika benturan cukup kuat, bisa membuat ban sobek. 

Solusi: Jangan injak rem terlalu dalam hingga melindas lubang. Lepas pedal rem sesaat sebelum terperosok ke lubang agar beban mobil berpindah ke roda belakang. 

9. Beban berlebih (overload) 

Tiap ban memiliki toleransi bobot. Misal index beban 70, maka  ban tersebut memiliki batas kemampuan seberat 335 kg. Jika kali keempat roda menjadi 1.340 kg. Semisal berat kendaraan kosong 1.075 kg, berarti beban sisa yang bisa diakomodasi 255 kg. 

Jika mobil dinaiki 5 penumpang, dengan berat badan masing-masing  semisal 75 kg per orang, artinya beban yang dibawa 375 kg. Ini berarti kelebihan beban 120 kg. Jika berlangsung terus-menerus tak mustahil dinding ban akan mudah retak dan bahkan  lapisan ban luar akan terkelupas. Kondisi itu akan lebih parah jika tekanan angin di bawah patokan. 

Solusi: Muatlah penumpang atau barang jangan melebihi kapasitas beban. 

10. Oli atau minyak 

Salah satu musuh utama ban (karet) adalah minyak fosil. Ban yang sering terkena minyak atau oli serta turunannya, akan mudah melar dan kekuatan ban akan lekas menurun. 

Solusi: Hindari minyak atau oli mengenai ban. 

11. Mengemudi agresif 

Cara mengemudi juga berpengaruh terhadap ban. Mengemudi agresif mempunyai potensi besar merusak ban. Biasanya kerusakan yang kerap terjadi bisa dilihat dari lapisan tapak ban yang terkelupas, dinding ban sobek atau retak-retak serta pengikisan tapak ban yang tidak merata. 

Solusi: Hindari mengemudi agresif. 

12. Pemasangan ban tidak sempurna 

Pemasangan ban yang ceroboh dapat membuat ban lekas rusak. khususnya di bagian dinding bagian dalam. 

Solusi: Periksa dengan seksama saat pemasangan ban, apakah sudah terpasang sempurna atau belum. 

13. Pelek tidak sesuai ukuran ban 

Seperti memakai celana, paling enak jika ukurannya pas. Tidak terlalu ketat atau longgar. Pelek dan ban juga begitu. Pelek terlalu ramping atau lebar, bentuk ban seperti donat. Hal itu membuat kerja dinding ban menjadi lebih berat. Pasalnya, sudut dinding ban menyempit. Dinding ban biasanya akan mudah retak, pecah atau benjol. Sebaliknya pelek terlalu lebar, dinding ban bisa terkoyak saat menikung. Padahal dinding ban merupakan titik terlemah dari ban. 

Solusi: Sesuaikan  ukuran pelek dan ban. 

14. Pelek cacat 

Pelek cacat, baik penyok atau benjol, berpotensi merusak ban, khususnya dinding ban di sekitar cacat. 

Solusi: Segera perbaiki pelek. Jika kerusakan sudah merusak struktur pelek, segera ganti. 

15. Suspensi tidak berfungsi optimal 

Tidak maksimalnya kerja komponen suspensi seperti sokbreker dan per bisa berpengaruh pada ban. Jika sokbreker tidak berfungsi, per tidak mampu menahan impak sendirian. 

Akhirnya kendaraan akan mengayun. Ban pun ikut menanggung akibatnya. Biasanya, kondisi itu membuat tapak ban akan bergelombang. 

Solusi: Ganti suspensi yang rusak.

 

By : Sasmita Pribadi

Sumber : www.autobild.co.id

Informasi Pembelian Mobil Daihatsu di Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Solo. Anda dapat menghubungi Daihatsu Klaten di Telepon
Ninik ( Sales Counter )
0815-4860-2726
0813-9361-9789